Banyak yang mengetahui Kepala LKPP Agus Prabowo selalu memberikan arahan tanpa teks pidato. Ketika berbicara, apa yang dipaparkan olehnya selalu mengalir dan memiliki konteks. Jika menggunakan teks, dipastikan hanya pointer berisi data sebagai pengingat. Begitu juga ketika dia membuka acara Diklat Jabatan Fungsional Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Selasa (06/03) di Gedung Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) di Jalan Jend. Gatot Subroto, Jakarta.

Di hadapan sekitar 100-an peserta diklat, hanya dengan secarik kertas, Agus bercerita tentang gedung yang saat ini digunakan oleh LKPP untuk pendidikan jabatan fungsional pengelola pengadaan.

Menurut Agus, gedung yang diresmikan oleh Presiden Soeharto tahun 1977  merupakan salah satu gedung tinggi bersejarah generasi kedua yang dibangun di Ibu kota pasca era awal dengan kehadiran Gedung Monas, Masjid Istiqlal dan lain-lain.  Pada waktu itu, banyak gedung pampasan Jepang yang dialihfungsikan. Pada saat bersamaan, insinyur tanah air sangat bersemangat untuk mendemonstrasikan kemampuan mereka untuk membangun Jakarta.  Salah satunya adalah gedung YTKI.

“Pada waktu itu, sedang marak penggunaan beton.  Saat itu, beton masih dianggap teknologi maju, baja belum banyak dikenal. Tokohnya Prof. Ruseno, sementara gedung ini arsiteknya Prof. Gunawan, dosen saya. Saya masih ingat, dari Bandung ke sini untuk melihat pembangunan dan peresmian gedung oleh Presiden Soeharto” tutur Agus yang pernah menyelesaikan studi arsitektur di ITB.

Kata Agus, gedung YTKI bisa dikatakan dirancang dengan semangat eksplorasi. Jika diperhatikan, pada waktu itu struktur bangunan luarnya masih menggunakan beton tipis-tipis yang dilipat-lipat.

Kertas yang tadi ia bawa kemudian dilipat kecil-kecil dan ditunjukan kepada peserta.  

“Sekarang kita lihat, 50 tahun masih seperti ini. Jadi, dulu beton expose, telanjang apa adanya, tapi jadi gedung tinggi. Tangga dan lantai handmade semua, menggunakan teraso.” Katanya bersemangat.

Apa yang ditampilkan oleh para insinyur tanah air pada masanya itu,  menjadi contoh penting bagaimana proses pengadaan yang digerakkan oleh passion.  Dengan sepenuh hati, para insinyur tanah air mewujudkan semangat keahlian mereka dalam bentuk arsitektur gedung yang sampai saat ini masih berdiri kokoh.

Sudah tentu, apa yang sudah disampaikan oleh Agus merupakan semacam pesan kepada peserta diklat. Apapun yang dikerjakan dengan passion dan sepenuh hati, akan berbuah manis. Begitu pula mestinya dengan pengelola pengadaan yang sedang menempuh diklat. Dengan sepenuh hati belajar dan mendedikasikan ilmunya di bidang pengadaan, niscaya apa yang telah dikerjakan akan bermanfaat bagi masyarakat banyak. “Nah, passion yang dimiliki oleh insinyur itulah yang sekarang harus kita ambil alih, kita-kita semua ini, insan pengadaan. Kita harus meneruskan spirit itu.”

Kiprah Insan Pengadaan

Di kesempatan itu juga, Agus menyinggung soal revisi Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010. Dalam draft yang sudah difinalisasi LKPP dan Setkab, akan banyak peluang bagi insan pengadaan untuk berkiprah. 

Dengan adanya perpres baru, LKPP akan memperkenalkan Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ). Nantinya peran pengelola pengadaan yang berkecimpung didalamnya diharapkan semakin besar. UKPBJ akan dikembangkan menjadi center of excellence. Tempat ini tidak hanya menyelenggarakan layanan pengadaan, namun juga berperan dalam pengembangan sumber daya manusia, riset pasar dsb.

Di sisi lain, akan ada Procurement Agent. Semacam konsultan atau kantor yang mampu menangani pengadaan dari A-Z dan jasa mereka bisa digunakan oleh pemerintah. “Jadi misal TNI-AL akan membuat kapal latih baru pengganti Dewa Ruci. Maka, spesifikasi, desain, mesin, navigasi dan lain-lainnya tinggal diserahkan ke procurement agent. Nanti, TNI-AU tinggal terima barangnya saja.”

Kata Agus, lembaga semacam ini sudah ada di negara lain. Contohnya, Charles Kendall dan Dlloyd di Inggris.

Selain itu, LKPP sudah mulai mendelegasikan kewenangan pembuatan e-katalog, menjadi e-katalog sektoral dan daerah. Semua proses pra katalog akan dikerjakan oleh daerah/kementerian/lembaga. Hasilnya akan ditayangkan di katalog nasional LKPP. 

“Proses ini  dikerjakan oleh pengelola pengadaan di UKPBJ. Nah, orang-orangnya inilah yang sedang dicetak melalui jabatan fungsional. Nanti di perpres baru ada kewajiban yang isinya, UKPBJ adalah jabatan fungsional pengelola pengadaan bersertifikat. LKPP sedang menata strategi desentralisasi pengadaan. Termasuk menyiapkan embrio di daerah. Peserta yang hadir di sini adalah tahap inisiasi. Tapi arahnya ke sana.” Tegasnya.

Saat ini, jumlah pejabat fungsional pengelola pengadaan barang/jasa sudah lebih dari 1600 orang. 

Diklat kali ini, dari peserta yang terseleksi ada tiga bagian. Untuk pembentukan jabatan fungsional terdiri dari 23 peserta, Tingkat Pertama ada 20 orang, Tingkat Muda 51 orang dan 29 orang untuk Tingkat Madya.

Maka sudah seharusnya tidak ada keraguan bagi para pengelola pengadaan untuk berkarir. Menekuni materi dan aktif di dunia pengadaan barang/jasa. Karena, percayalah, urusan pengadaan barang/jasa pemerintah itu nyata. Setiap tahun nilainya semakin besar, semakin penting namun juga semakin rawan. Tuntutan masyarakat semakin tinggi. “Semakin banyak dipelototin orang. Kami ingin orang-orangnya kompeten, mempunyai pengetahuan, skill dan attitude.” tutup Agus. (fan)

sumber